Pada dasarnya bahasa Madura dibagi menjadi tiga tingkat bahasa, yaitu:


Tingkat Bahasa Umum (iyâ-enjâ’)

Tingkat bahasa Madura iyâ-enjâ’ digunakan oleh masyarakat Madura untuk berkomunikasi antara anak-anak dengan anak-anak yang sebaya sebagai bahasa keakraban, orang dewasa dengan orang dewasa yang sudah akrab, orang tua kepada anaknya sendiri, keponakannya, dan juga banyak digunakan oleh sebagian golongan masyarakat priayi kepada rakyat.
Contoh :

  • Apa bâ’na ella tao? (Apakah kamu sudah tahu?).

  • Sapa nyamana bâ’na, lè’? (Siapa nama kamu, dik?).

  • Apa bâ’na ella tao? (Apakah kamu sudah tahu?).


Tingkat Bahasa Menengah (engghi-enten)

Tingkat bahasa ini digunakan oleh anak-anak di pedesaan kepada kedua orang tua, paman,bibi dan kepada orang yang lebih tua darinya. Di perkotaan digunakan oleh seorang mertua kepada menantunya, tetapi sekarang kebanyakan para mertua menggunakan tingkat bahasa halus. Di pedesaaan juga digunakan oleh para istri kepada suaminya. Namun saat ini tingkat bahasa tengahan jarang terdengar dan sudah tidak dimengerti oleh generasi muda.
Contoh :

  • Napè dhika pon tao? (Apakah kamu sudah tau?)

  • Sèra nyamana dhika, lè’? (Siapa nama kamu, dik?)

  • Èntara dâ’ ka’ amma dhika? (Hendak pergi kemana kamu?)


Tingkat Bahasa Tinggi/Halus (Èngghi-bhunten)

Tingkat bahasa ini merupakan bahasa halus yang digunakan sebagai kata pengantar dalam pertemuan atau rapat musyawarah tanpa pengecualian yang hadir juga ada anak muda dan anak-anak, digunakan oleh orang dewasa dengan orang yang baru dikenal baik kepada orang yang lebih tua maupun terhadap yang lebih muda sebagai bahasa pergaulan yang sopan, digunakan oleh anak-anak kepada orang tuanya sendiri maupun orang dewasa lainnya, dan digunakan oleh murid kepada gurunya. Contoh :
Contoh :

  • Ponapa panjhennengan ampon mèyarsa? (Apakah kamu sudah tau?).

  • Pasèra asmana panjhennenggan, lè’? (Siapa nama kamu, dik?).

  • Bhâdhi mèyossa dâ ka’ dimma? (Hendak pergi kemana?).


Sumber : Pawitra, A. Kamus Lengkap Bahasa Madura Indonesia. Jakarta: Dian Rakyat. 2009.